Am I wrong to be an indonesia
Judul di atas memang terdengar agak kontroversial mengingat saya ini adalah seorang warga Indonesia asli. Akan tetapi, kenyataanlah yang membuat saya merasakan hal seperti itu. Mungkin kalau kita pernah mendengar cerita dari orangtua kita yang mengatakan bahwa negeri ini dulunnya amat makmur, damai, tenteram, dan hal baik lainnya, mungkin kini cerita itu hanyalah bualan belaka. Indonesia sekarang ini hanyalah negeri yang semrawut baik dalam hal olahraga hingga ekonomi. Banyak sekali polemik yang terjadi di negeri ini. Pemerintah yang tidak berjalan sesuai harapan hanyalah sebuah formalitas negeri ini dipimpin oleh sebuah pemerintahan. Selain itu, hukum di Indonesia itu sangat murah hingga mampu dijualbelikan oleh orang-orang yang merasa punyaduit.
Sekarang ini, kita yang hanya sebagai orang awam, orang yang “belum” mempunyai kekuatan untuk merubah negeri ini, hanya berharap penuh kepada wakil-wakil kita di gedung DPR sana. Akan tetapi, harapan itu hanyalah mimpi-mimpi yang tidak akan “pernah” terwujud. Mereka itu (baca:anggota DPR) hanya sibuk dengan golongan-golongan mereka tanpa mau melihat rakyat-rakyat di bawah mereke yang notabennya sudah jelas-jelas bahwa mereka itu dipilih oleh kita untuk memperjuangkan aspirasi kita. Jika mereka tidak mau memperjuangkan asiprasi kita, buat apa kita pilih mereka (maaf agak terlalu ekstrim). Apalagi masalah yang lama mencuat di gedung DPR yakni anggaran insentif. Saya pernah melihat salah satu acara di stasiun tv swasta yang membahas tentang masalah ini. Dalam acara tersebut, salah satu anggota DPR menyebutkan bahwa menjadi suatu hal yang wajar jika setiap anggota DPR itu mendapatkan tambahan anggaran insentif melihat banyak sekali anggota DPR yang sudah bekerja keras hingga pulang larut malam. Mungkin sebagian pembaca akan sedikit tertawa saat saya menyebutkan alasan dari anggota DPR tersebut. Saya yang langsung menonton acara tersebut ingin rasanya tertawa terbahak-bahak saat anggota DPR tersebut menyebutkan hal itu . Saat itu saya berpikir:
- masih kurangkah gaji bulanan beserta anggaran-anggaran lainnya untuk seorang anggota DPR
- memangnya anggota DPR saja yag pulang larut malam, satpam di perkantoran malahan hingga pagi jika sedang bertugas
- jika ingin kaya, jadilah anggota DPR. hehe…
Kembali ke permasalah pokok.
Sekarang ini, negara Indonesia sedang asyik membicarakan tentang masalah Soeharto. Seperti yang dituliskan oleh teman sekaligus senior saya, Kamal, yang menyebutkan bahwa Soeharto itu sebaiknya dimaafkan atau tidak. Mungkin hal itu cukup serius diperdebatkan mengingat banyak sekali kontroversial antara kasus ini. Di satu sisi ada yang pro, tetapi ada juga yang kontra. Tapi saya tidak akan membahas lebih jauh dalam lagi mengenai masalah ini mengingat sudah banyak orang-orang yang membahasnya. Sekarang masalahnya adalah apakah pemerintah sudah cukup benar dalam menangani masalah ini? Itulah yang di sini ingin saya bahas lebih dalam. Pemerintah memang “terlihat” sudah cukup baik dalam menangani masalah Pak Harto, tetapi jika kitaflashback ke zaman salah satu proklamator Indonesia, Bung Karno, mungkin ini terlihat agak janggal. Kita lihat sendiri, saat Bung Karno berada dalam masa-masa kritis seperti Pak Harto. Pemerintah saat itu tidaklah seantusia dalam menangani masalah Pak Harto. Tapi mungkin itu cerita lama. Mungkin salah satu alasan perawatan Bung Karno berbeda dengan Pak Harto dilihat juga dari background pemerintah saat itu. Namun, yang ingin saya bahas sedikit adalah apakah masalah Pak Harto ini lebih penting ketimbang masalah rakyat kecil yang sedang berjuang untuk survive. Apa maksudnya?
Sekarang ini, rakyat Indonesia sedang dipusingkan oleh masalah ekonomi. Banyak sekali masalah-masalah yang mereka alami sekarang ini. Dari naiknya minyak tanah hingga hilangnya lauk pokok kita, tahu-tempe. Ironis kedengarannya. Pemerintah, khususnya Pak SBY, yang sedang asyik memikirkan Pak Harto seakan-akan melupakan jeritan-jeritan dari rakyat kecil. Saya pernah membaca berita di salah satu koran ibukota yang menuliskan bahwa ada seorang tukang gorengan yang nekat bunuh diri lantaran ia sudah tidak sanggup lagi hidup dalam kemiskinan yang amat sangat. Mungkin itu hanyalah salah satu contoh dari keterpurukan ekonomi bagi bangsa ini. Masih banyak rakyat kecil yang mungkin bernasib sama atau lebih parah dari abang tukang gorengan itu. Lalu, apakah yang dilakukan pemerintah? Mana janji-janji mereka sebelum menjabat? Apakah ini yang disebut demokrasi?
Mungkin hanya itu yang bisa saya tulis. Sebenanya masih banyak unek-unek saya terhadap pemerintah yang ingin saya paparkan. Dari hal olahraga, teknologi, hingga pembangunan yang semrawut. Sebelumnya saya minta maaf jika ada kata-kata di dalam tulisan ini yang berbau kontroversial. Tapi hidup itu memang lebih indah jika ada sesuatu yang kontorversial. HIdup lebih enak jika ada perbedaan. Akhir kata, to be continued….
0 komentar: